KUPANG, KOMPAS.com- Pemerintah pusat tahun ini mengalokasikan dana Rp 7,5 miliar untuk pengembangan garam di Nusa Tenggara Timur. Rp 2,5 miliar untuk Kabupaten Nagekeo, dan Rp 5 miliar untuk Kabupaten Ende.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTT Yosep Lewokeda di Kupang, Kamis (25/8/2011), mengatakan, dana itu diprioriaskan untuk pengembangan garam tradisional yang selama ini dikelola masyarakat secara tradisional. Dana sudah dicairkan Juni 2011, sehingga masyarakat memulai aktivitas penambangan secepat mungkin.
Pengembangan garam tradisional di kabupaten Ende terpusat di Desa Wewaria Kecamatan Wewaria seluas 100 hektare, sedangkan di Nagekeo terpusat di Desa Totomala Kecamatan Wolowea kabupaten Nagekeo.
Menurut Lewokeda, kegiatan penambakan garam ini di luar proyek besar pemerintah tentang pengembangan garam di NTT. "Proyek besar di Nagekeo sedang dilirik PT Cheetan Salt dari Australia seluas 1.000 ha, tetapi yang tersedia baru 600 ha. Sisa 400 ha sedang dalm proses pembebasan. Kantor dan sarana lain dari perusahaan ini sudah disiapkan di Nagekeo," katanya.
Di Ende, dana itu hanya berupa pengembangan garam rakyat. "Lalu di Teluk Kupang seluas hampir 10.000 hektar masih dalam proses penyelesaian masalah tanah, tetapi ada dua perusahaan besar yakni PT Gudang Garam Indonesia dan PT Garam Indonesia sedang melirik potensi itu," kata Lewokeda.
Jika proyek besar garam NTT terealisasi, proviosi ini bisa memasok kebutuhan garam nasional di bidang pabrik (industri) dan rumah tangga, yang selama ini diimpor dari luar negeri sampai jutaan ton per tahun. Juga akan ada ribuan tenaga kerja terserap di proyek garam nasional ini, sehingga jumlah pengangguran bisa ditekan, dan kesejahteraan masyarakat secara bertahap ditingkatkan.
"Kita butuh dukungan semua pihak, terutama pengertian baik dari para pemilik lahan, pemerintah pusat, investor dan masyarakat umum. Jika proyek garam terealisasi, NTT punya dua industri besar yakni PT Semen Kupang yang sedang beroperasi dan perusahaan garam yang akan dikembangkan," kata Lewokeda.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan NTT Yosep Lewokeda di Kupang, Kamis (25/8/2011), mengatakan, dana itu diprioriaskan untuk pengembangan garam tradisional yang selama ini dikelola masyarakat secara tradisional. Dana sudah dicairkan Juni 2011, sehingga masyarakat memulai aktivitas penambangan secepat mungkin.
Pengembangan garam tradisional di kabupaten Ende terpusat di Desa Wewaria Kecamatan Wewaria seluas 100 hektare, sedangkan di Nagekeo terpusat di Desa Totomala Kecamatan Wolowea kabupaten Nagekeo.
Menurut Lewokeda, kegiatan penambakan garam ini di luar proyek besar pemerintah tentang pengembangan garam di NTT. "Proyek besar di Nagekeo sedang dilirik PT Cheetan Salt dari Australia seluas 1.000 ha, tetapi yang tersedia baru 600 ha. Sisa 400 ha sedang dalm proses pembebasan. Kantor dan sarana lain dari perusahaan ini sudah disiapkan di Nagekeo," katanya.
Di Ende, dana itu hanya berupa pengembangan garam rakyat. "Lalu di Teluk Kupang seluas hampir 10.000 hektar masih dalam proses penyelesaian masalah tanah, tetapi ada dua perusahaan besar yakni PT Gudang Garam Indonesia dan PT Garam Indonesia sedang melirik potensi itu," kata Lewokeda.
Jika proyek besar garam NTT terealisasi, proviosi ini bisa memasok kebutuhan garam nasional di bidang pabrik (industri) dan rumah tangga, yang selama ini diimpor dari luar negeri sampai jutaan ton per tahun. Juga akan ada ribuan tenaga kerja terserap di proyek garam nasional ini, sehingga jumlah pengangguran bisa ditekan, dan kesejahteraan masyarakat secara bertahap ditingkatkan.
"Kita butuh dukungan semua pihak, terutama pengertian baik dari para pemilik lahan, pemerintah pusat, investor dan masyarakat umum. Jika proyek garam terealisasi, NTT punya dua industri besar yakni PT Semen Kupang yang sedang beroperasi dan perusahaan garam yang akan dikembangkan," kata Lewokeda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar