Kamis, 25 Agustus 2011

Bank Darah di Ende Kekurangan Stok..........


 
ENDE, KOMPAS.com -- Bank Darah Rumah Sakit Umum Daerah Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, yang baru didirikan Februari 2011 sampai saat ini selalu kekurangan stok darah.
Semestinya stok selalu siap untuk melayani dengan cepat kebutuhan pasien. Tapi kenyataannya sampai saat ini bank darah selalu kekurangan stok, malah seringkali kosong.
"Tugas bank darah hanya menerima, menyimpan, dan menyalurkan darah. Sedangkan yang mempunyai tugas untuk mencari adalah PMI (Palang Merah Indonesia). PMI harus lebih aktif supaya stok darah selalu ada," kata Direktris RSUD Ende, Yayik Pawitra Gati, Rabu (24/8/2011) di Ende.
Menurut Yayik, kondisi demikian amat disayangkan, apalagi dalam kaitan RSUD Ende yang sudah ditetapkan menjadi rumah sakit rujukan Pelayanan Obstetri Neonatal Komprehensif (Ponek) 24 jam.
Program ini untuk mengembangkan pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA), sekaligus mendukung program Pemerintah Provinsi NTT dalam gerakan Revolusi KIA guna menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Upaya itu dilakukan demi mencapai target Sasaran Pembangunan Milenium (MDGs) tahun 2015, yaitu AKI menjadi 125/100.000 kelahiran hidup, dan AKB menjadi 20/1000 kelahiran hidup .
Berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2007 (SDKI07), AKI NTT 306/100.000 kelahiran hidup, dan AKB NTT mencapai 57/ 1000 kelahiran hidup.
"Bank darah menjadi salah satu penunjang ponek, terutama terhadap ibu melahirkan yang mengalami pendarahan supaya dapat cepat ditolong," kata Yayik.
Menurut dokter spesialis anak RSUD Ende Agustini Utari, karena stok darah kosong mengakibatkan seorang pasien melahirkan meninggal pada 14 Agustus 2011. "Ada seorang ibu yang mengalami pendarahan, akhirnya nyawanya tak tertolong karena stok darah kosong. Bayinya meninggal di dalam rahim," tutur Agustini.
Kepala Instalasi Bank Darah RSUD Ende, Mercy Woda, ketika dikonfirmasi membenarkan kondisi demikian. Bahkan, kata dia, pada bulan Juni 2011 stok darah kosong sama sekali.
Seharusnya stok tersedia paling tidak 70 persen dari kebutuhan. Permintaan dalam satu bulan bisa mencapai 164 kantong darah, dan rata-rata kebutuhan per bulan 100 kantong (kapasitas 250 cc per kantong). "Dan biasanya kalau tersedia 70 kantong saja, dalam waktu seminggu sudah habis," kata Mercy.
Mercy menyebutkan, persediaan yang ada umumnya pesanan atau diperoleh dari keluarga pasien, bukan suplai dari PMI atau pendonor sukarela.
Kondisi ini membahayakan, sebab ketika darah dibutuhkan segera, tapi stok tidak siap, keluarga pasien yang terpaksa mencari, itu membutuhkan waktu lama. Belum lagi darah pendonor harus dicocokkan dengan darah pasien. "Kalau keadaan pasien kritis bisa tidak tertolong," ujar Mercy.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar